Hiking adalah Bahaya, Kecantikan dan Kepuasan Batin yang banyak di cari
manusia –Unknown-
Cerita bermula dari kumpulan Purna OSIS SMKN 1 Wanareja Masa
Bhakti 2014/2015, kami berjumlah 14 Orang dengan 6 Laki-laki dan 8 Perempuan
tangguh.
Cuaca belakangan ini ngga mendukung buat aktifitas outdoor. Hujan
yang ngga bisa di prediksi membuat kami kelabakan ngatur waktu buat berangkat.
Akhirnya setelah briefing lama, kami memutuskan berangkat ba’da
Isya dari Cilacap menuju Garut, Jawa Barat.
Perjalanan malam mulanya terasa oke-oke aja, kita semua fit.
Semua cewek bawa carrier dan daypack wajib di taruh di depan motor. Ngga wajib
sih, Cuma biar gampang aja
Di Tasikmalaya kami break buat melengkapi logistik dan
istirahat seperlunya, leader tim kami memprediksi kami bakal sampai Garut
kisaran jam 1-2 dinihari. Kami jabanin demi puncak Papandayan.
Perjalanan berlanjut, kami mulai masuk wilayah Garut. Jalanan
mulai berkelok dan ngantuk sebisa mungkin kami tahan. Gue sendiri memutuskan
nyanyi keras-keras biar ngga ngantuk. Sampai di gerbang masuk pertama cuaca
dingin menyerbu. Ah! Di gunung biasa dingin nya..
Dari gerbang masuk pertama sekitar 8-10 km menuju gerbang
registrasi. Jalanan menanjak dan dingin nya udah mulai ampun-ampunan. Di depan
pintu registrasi, kami disambut akang-akang Papandayan yang lagi duduk dekat
api. Kami berenti dan ikut menghangatkan diri, ditambah ada dua anggota tim
yang ketinggalan. Akhirnya kami fix berhenti.
Tiga puluh menit kemudian tim lengkap, kita lanjut ke Pos Camp David. Begitu sampai disana. oh! Suck! Kita
lupa ngga bawa dome!!
Leader kita tenang, dia bilang bisa tidur di emperan. Oke,
kita tidur di emperan saung. Selanjutnya leader kita nanya alat masak. Dan. For
God’s Sake!! Carrier yang berisi kompor dan alat masak lainnya juga
ketinggalan.
Temen Gue bilang “Mau ngapain kita kesini? Mau mati, hah?!”
Gue bingung, temen cewek gue bilang. “Tenang mba, positif
thinking aja. Kita survive disini..” dia nenangin gue yang nyaris nangis. Love you
so much mba Puji!
Di tengah bingung, kita memutuskan buat nyewa peralatan
masak ke pos registrasi. Dan malam itu akhirnya kami bisa makan. Selanjutnya tidur,
rasanya kaya Cuma ngedip! Jam setengah empat pagi kami bangun, dan
leader kami minta buat jalan demi ngejar sunrise yang bahkan ngga kekejar. Kita
mikirnya optimis aja sampe puncak. Udah. Itu aja.
Perjalanan pertama dimulai dari kawah yang bau belerangnya
ngga nahan, kita cengap-cengep buat ngelewatin itu. Selanjutnya pemandangan
hijau menyegarkan mata yang menyambut kami di perjalanan.
Setengah perjalanan, kita break di tebing dan masak. Leader kami
bilang bentar lagi sampai ke Pos Pondok Saladah, tapi kami butuh makan. Dan break
disitu.
Usai makan, kita lanjut jalan lagi. Ngga kerasa deh
jalannya. Soalnya adem-adem gimana gitu elu kan bawa daypack. Jelas lah
adem. Yang bawa carrier mah kepanasaaannn!
Sampai di pos Pondok Saladah, kami antri ke toilet. Disitu gue
ngga sengaja nanya ke temen cewek gue, dia bilang dia lagi ‘berhalangan’ alias
dapet ‘tamu’, kesel lah gue. Gue bilang “Kamu nantang banget naik!”dia pasrah
dan bilang “Mau gimana lagi”
Okelah, gue maklumi. Selepas itu kami istirahat lagi sambil
beli dan makan bakso ikan legenda di Pondok Saladah. Ah~ bakal kangen banget
sama Papandayan! Apalagi bakso ikannyaa~!! XD
Dari pos kita lanjut jalan ke tempat camp. Bingung kan, orang
ngga bawa dome ke tempat camp. Ya, disitu kita cuma leyeh-leyeh dan tiduran
diatas hamparan bunga Edelweis.. Like a Dreamland..
Karena bingung mau gimana, akhirnya mba Puji nyamperin
pendaki lain dan nitip tas di situ. Kami lanjut jalan ke Hutan Mati dan Tegal
Alun.
Sesampainya di Hutan Mati kita ketemu pendaki lain dan foto
bareng, perjalanan yang tadinya mau lanjut ke Tegal Alun mesti kami tunda
karena temen gue yang sebelumnya lagi ‘dapet’ mendadak nangis dan kena
hipotermia. Kami peluk dia, dan kabut menggulung seketika. Buru-buru kita turun
lagi ke tempat camp, disana kami di tolong sama pendaki yang kami titipin tas. Mereka
dari Bekasi, dan you know, temen gue yang tadinya gue kira hipotermia itu
ternyata kesurupan! Ya!
Cerita sebenarnya gue mulai, terserah mau percaya apa nggak.
Yang jelas ini gue alamin di depan mata kepala gue sendiri. Dia nangis dan
teriak keras banget ketika kami baca ayat kursi keras-keras. Gue kewalahan
karena ternyata dari banyak orang cuma gue yang hafal ayat kursi. Entahlah,
boleh bangga atau ngga sama prestasi itu. Gue panik, bingung, shock. Dan..
banyak hal yang ngga bisa gue ungkapin. Badai menggulung kami semua, like a drama
but its REALITY!
Berjam-jam, akhirnya temen kami bisa diatasi. Ngga lama
setelah itu adzan dzuhur berkumandang. Kalo gue itung tiga jam lah itu temen
gue kerasukan.
Pendaki yang nolongin kami bilang ‘Penunggu Hutan Mati’ itu
suka sama leader kami. Ya Allah.. dan orang asli Papandayan mengamini hal itu. Akhirnya
tim cewek dan cowok di pisah. Udah. Kita jalan sendiri-sendiri.
Gue ngampu tim cewek, what a unforgetable experience.. gue
jadi leader, karena biasanya cuma jadi anggota. Sepanjang jalan kabut masih
ngikutin kami dan temen gue yang kerasukan ngga bisa ngucap kalimat istighfar
sama sekali. Gue tuntun pelan-pelan ngga mempan, akhirnya gue bentak dan pukul
dia. Dia malah nangis bilang “Aku ngga bisa.. aku ngga bisa istighfar..”
Gregetan sumpah!
Saat tim cuma ada tim gue doang, kabutnya ngegulung parah. Ngga
lama kemudian hujan. Buru-buru gue selamatin temen gue yang kerasukan. Kami akhirnya
selamat sampai kawah.
Ya, baru sampe kawah. Di kawah ada trouble lagi dimana
anggota gue sesak nafas dan ngga tahan belerang. Gue lepasin dia ke anggota
lain. Prioritas gue cuma sama yang kerasukan. Dia harus cepet-cepet turun
sebelum badai makin parah. Separuh perjalanan kawah, satu temen cowok gue
nyusul dan dia bilang temen gue yg sesak nafas karena belerang itu kondisinya
parah. Akhirnya kita buru-buru turun dan nyari tim sar.
Sampe di pos registrasi kita buru-buru lapor, tapi
very-slow-respond. Ternyata temen gue udh sampe bawah di gendong anggota tim
lainnya. sampe di pos, buru-buru kita lapor dan keluar.
10 menit kemudian, badai yang tadinya menggulung-gulung itu
hilang.. cuaca langsung terang benderang..
Maha Suci Allah dengan segala kekuasaan-Nya..
Satu pesan gue melalui tulisan ini adalah, sejatinya dinding
pembatas antara dunia kita dan dunia luar hanya setipis selembar kertas. Hanya bagaimana
kita membentengi diri kita masing-masing..
Darisitu gue ngga berhenti mengucap syukur, tasbih, tahlih,
tahmid, dan istighfar..
Allah.. Allah.. Allah.. Cuma itu yang ada dalam pikiran gue.
Terimakasih untuk semuanya, Syukron Jazila.. Barakallah..
Lain kesempatan, mari kita taklukan jajaran puncak lainnya! J